Rabu, 03 Jun 2026
  • Penerimaan Pendaftaran Santri Baru tahun Pelajaran 2026-2027 Sudah dibuka
  • Penerimaan Pendaftaran Santri Baru tahun Pelajaran 2026-2027 Sudah dibuka

Peran Pola Asuh Otoritatif dalam Meningkatkan Resiliensi pada Remaja Generasi Z

Orang tua memiliki cara dan pola tersendiri dalam mengasuh dan membimbing anak. Cara dan pola tersebut tentu akan berbeda antara satu keluarga dengan keluarga yang lainnya. Pola asuh orang tua merupakan gambaran tentang sikap dan perilaku orang tua dan anak dalam berinteraksi serta berkomunikasi selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Pola asuh yang tepat bisa membantu orang tua dalam menerapkan nilai-nilai positif kepada anak.

Pola asuh demokratis memberikan pengaruh yang kuat terhadap perkembangan
enam aspek resiliensi pada anak asuh, yaitu regulasi emosi, kontrol impuls, optimisme,
efikasi diri, empati, dan kemampuan untuk membuka diri kepada orang lain. Ia merasa
lebih tenang, lebih percaya diri, dan lebih terhubung secara sosial. Ia juga belajar
memahami batasan, membuat pilihan sendiri, dan bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil (V. Amelia., 2025).
Pola asuh otoritatif akan membentuk anak dengan perilaku yang ramah, memiliki
harga diri, kepercayaan diri, memiliki tujuan, cita-cita, serta berprestasi. Sebaliknya, pola
asuh otoritarian, mengakibatkan anak tidak dapat mengambil keputusan, kurang percaya
diri, dan pemalu. Tuntutan orang tua yang terlalu tinggi tanpa disertai kenyataan yang ada
dapat berdampak kegagalan dan dapat berpengaruh pada harga diri anak.
Salah satu hal yang dapat meningkatkan resiliensi adalah pola asuh yang positif
dan demokratis sehingga anak memiliki kontrol diri yang baik, tidak mengalami krisis
identitas dan memiliki tingkat resiliensi yang tinggi. Hurlock (1978) menjelaskan bahwa
pola asuh demokratis adalah gaya pengasuhan yang memberikan kebebasan kepada anak
dalam batas-batas tertentu serta melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan. Orang
tua yang menerapkan pola asuh ini memberikan bimbingan, kasih sayang, serta kontrol
yang seimbang, sehingga anak dapat berkembang secara mandiri, memiliki rasa tanggung
jawab, serta kepercayaan diri yang tinggi.
Resiliensi yang baik dapat terjadi apabila seseorang memiliki dukungan dari
lingkungan sekitar yang baik, memiliki kekuatan dari dalam diri, serta kemampuan untuk
menyelesaikan masalah dan berbicara dengan orang lain. Pada tipe pola asuh otoritatif,
orang tua memberikan dukungan agar anak lebih mandiri, tetapi tetap menerapkan
batasan dalam bertingkah laku. Kemudian kekuatan dari dalam diri salah satunya adalah
percaya diri dan yakin bahwa semuanya akan dapat teratasi dengan baik.
Salah satu hal yang terlihat dari konsekuensi adanya dukungan dan tuntutan yang
seimbang dari orangtua adalah seorang anak merasa percaya akan kemampuan dirinya
tanpa memandang rendah apa yang ia dan orang lain miliki. Selain itu remaja juga dapat
meyakini bahwa apapun kesulitan yang dihadapi akan terlewati dengan baik. Anak yang
diasuh dengan pola asuh otoritatif berani menyuarakan ketakutan ataupun meminta pertolongan. Mereka yakin orang-orang yang ada disekitar mereka akan membantu dalam
menghadapi kesulitan.
Menurut penelitian pola asuh yang berperan paling besar terhadap resiliensi
adalah pada pola asuh ibu otoritatif dan pola asuh ayah otoritatif. Pola asuh yang
berperan paling tinggi terhadap resiliensi adalah pada kombinasi pola asuh ayah otoritatif
dan pola asuh ibu otoritatif. Sedangkan, pola asuh yang berperan paling kecil terhadap
resiliensi adalah pada kombinasi pola asuh ayah otoritarian dan pola asuh ibu permisif.
Hal ini bermakna bahwa pola asuh ayah dan ibu dapat memprediksi resiliensi dan dapat
menghasilkan tingkatan resiliensi (D. C Permata & R. A Listiyandrini., 2015).
Memang masih terdapat banyak sekali faktor lain yang mampu mempengaruhi
perkembangan resiliensi pada diri seorang remaja. Tetapi orang tua menjadi hal utama
yang ditemui seorang anak semasa hidupnya. Pola asuh yang mampu mengembangkan
resiliensi pada diri seorang remaja dapat membantu mereka melewati masa-masa sulit
pada tahap perkembangannya. Mereka mampu bangkit ketika mengalami keterpurukkan
dan mampu menghadapi tekanan dari berbagai tuntutan. STIZ
Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Menghadirkan Generasi Hafizh Saintis dan Ulama Pejuang.

PONPES MIMBAR HUFFAZH

Jl. Cikampek-Cilamaya Dusun Krajan 2 Kp. Susukan Berkah
Ds. Mekarasih, Kec. Banyusari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat 41374