
Marilah kita menyelami adab-adab berpuasa yang sarat hikmah sebagaimana dijelaskan dalam kitab Maqosid shaum karya Syaikh Izzuddin bin Abdissalam rahimahullah. Beliau menegaskan bahwa puasa adalah ibadah yang bertujuan menjaga lahir dan batin, agar nilai pahala tidak rusak dan buah ketakwaan benar-benar terasa.
Adab pertama yang sangat ditekankan adalah menjaga lisan dan amal perbuatan. Puasa bukan hanya menahan perut, tetapi juga menahan ucapan dan sikap. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
(رواه البخاري)
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
Ketika orang yang berpuasa diajak makan atau dipancing pada hal yang membatalkan pahala, adabnya adalah menjaga kehormatan puasa dengan mengucapkan: إِنِّي صَائِمٌ (Sesungguhnya aku sedang berpuasa), sebagaimana tuntunan Nabi ﷺ. Kalimat ini bukan sekadar penolakan, tetapi pengingat bagi hati agar tetap mulia.
Adab berikutnya adalah menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
(رواه البخاري ومسلم)
Dan beliau juga bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
(رواه البخاري ومسلم)
Berbuka dianjurkan dengan kurma, dan jika tidak ada, dengan air, sebagai bentuk kesederhanaan dan ketundukan. Saat berbuka, Rasulullah ﷺ membaca doa:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
(رواه أبو داود)
Selain itu diantara adab-adab berpuasa adalah dengan mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka. Jika kita ingin puasa yang berkualitas dan menyehatkan. Maka ikutilah contoh dari Nabi bagaiamana beliau dalam menjalanakan ibadah puasa
Barakallahufikum..
Tinggalkan Komentar