Selasa, 07 Apr 2026
  • Penerimaan Pendaftaran Santri Baru tahun Pelajaran 2026-2027 Sudah dibuka
  • Penerimaan Pendaftaran Santri Baru tahun Pelajaran 2026-2027 Sudah dibuka

3 TARGET RAMADHAN

Sebagai Mudir ‘Am Pondok Pesantren Mimbar Huffazh Karawang, saya mengajak seluruh warga pesantren, wali santri, dan umat Islam untuk memahami bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perjalanan menuju tiga target besar yang Allah rangkai dalam ayat-ayat shiyam. Tiga tujuan itu harus kita pahami secara utuh dan kita perjuangkan secara sadar.

1. La‘allakum Tattaqun (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ) – Agar Kalian Bertakwa

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ … لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa… agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Inilah tujuan pertama dan fondasi semuanya: takwa.
Ibn Kathir menjelaskan bahwa puasa menjadi sarana mencapai takwa karena ia melemahkan hawa nafsu dan mempersempit jalan setan dalam diri manusia (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim). Sementara Al-Qurtubi menegaskan bahwa ketika seseorang mampu menahan diri dari yang halal karena Allah, ia akan lebih mudah meninggalkan yang haram (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an).

Takwa berarti hidup dengan kesadaran penuh bahwa Allah melihat kita. Puasa melatih kejujuran batin—tidak makan bukan karena diawasi manusia, tetapi karena takut kepada Allah. Jika Ramadan berhasil melahirkan pribadi bertakwa, maka akhlak akan terjaga, lisan akan tertata, dan hati akan bersih.

2. La‘allakum Tasykurun (لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ) – Agar Kalian Bersyukur

Allah ﷻ berfirman:

وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“…agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Puasa mengajarkan kita merasakan lapar agar kita memahami nikmat kenyang.
Fakhr al-Din al-Razi menjelaskan bahwa rasa lapar membuka kesadaran manusia terhadap nikmat Allah yang selama ini terlupakan (Mafatih al-Ghayb). Sedangkan Al-Tabari menerangkan bahwa syukur dalam ayat ini adalah menggunakan nikmat hidayah dan Al-Qur’an dalam ketaatan (Jami’ al-Bayan).

Syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”, tetapi komitmen menggunakan nikmat untuk ibadah. Nikmat ilmu dipakai untuk dakwah, nikmat kesehatan dipakai untuk qiyam, nikmat harta dipakai untuk sedekah. Ramadan harus melahirkan jiwa-jiwa yang sadar nikmat dan tunduk dalam penghambaan.

3. La‘allahum Yarsyudun (لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ) – Agar Mereka Mendapat Petunjuk dan Kedewasaan

Allah ﷻ berfirman:

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Menurut Ibn Ashur dalam Al-Tahrir wa al-Tanwir, rusyd adalah kematangan berpikir dan kelurusan dalam memilih jalan hidup setelah memahami petunjuk Allah.

Ramadan tidak hanya membentuk orang yang rajin ibadah, tetapi pribadi yang matang: bijak dalam bersikap, lurus dalam keputusan, dan dewasa dalam menghadapi ujian.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Ampunan adalah awal perubahan.

Maka mari kita jadikan Ramadan sebagai proyek besar pembentukan diri:
1.  Takwa sebagai fondasi.
2. Syukur sebagai karakter.
3. Rusyd sebagai kematangan.

Jika tiga target ini tercapai, insyaAllah kita tidak hanya menjalani Ramadan tetapi naik derajat di sisi Allah dan menjadi cahaya bagi umat.

Artikel Lainnya

Menghadirkan Generasi Hafizh Saintis dan Ulama Pejuang.

PONPES MIMBAR HUFFAZH

Jl. Cikampek-Cilamaya Dusun Krajan 2 Kp. Susukan Berkah
Ds. Mekarasih, Kec. Banyusari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat 41374