Jumat, 16 Okt 2026
  • Penerimaan Pendaftaran Santri Baru tahun Pelajaran 2026-2027 Sudah dibuka
  • Penerimaan Pendaftaran Santri Baru tahun Pelajaran 2026-2027 Sudah dibuka

KETELADANAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM DAN KESABARAN MEMBINA MURID

Bismillahirrahmanirrahim

KETELADANAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM DAN KESABARAN MEMBINA MURID

Dr. H. Uus Mauludin, MA Pengasuh Pondok Pesantren Mimbar Huffazh Karawang

 Pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia. Ia bukan sekadar kegiatan menyampaikan informasi dari guru kepada peserta didik, bukan pula sekadar proses mengejar nilai akademik, kelulusan, prestasi, atau capaian administratif. Pendidikan yang sesungguhnya menyentuh wilayah yang jauh lebih dalam: membentuk cara berpikir, membangun kepribadian, menumbuhkan nilai, melatih tanggung jawab, mengembangkan kemampuan mengendalikan diri, serta mengarahkan manusia agar mampu menjalani kehidupan secara bermakna sehingga mampu berkolaborasi dan memberikan kontribusi. Dalam perspektif Islam, pendidikan bahkan memiliki dimensi yang lebih mendasar karena manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk intelektual, tetapi sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di bumi. Karena itu, pendidikan Islam tidak cukup menghasilkan manusia yang tahu, tetapi harus berusaha melahirkan manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, matang, bertanggung jawab, dan bermanfaat. Persoalannya adalah mendidik manusia tidak dapat diselesaikan hanya dengan kurikulum. Kurikulum dapat menjelaskan apa yang harus dipelajari, metode dapat menjelaskan bagaimana pembelajaran dilakukan, dan sistem evaluasi dapat mengukur capaian tertentu. Namun ada sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh kurikulum, yaitu kehadiran Guru sebagai teladan. Seorang guru dapat menjelaskan kejujuran selama satu jam, tetapi apabila murid melihat gurunya berbohong, maka pesan verbal itu kehilangan kekuatan moralnya. Seorang guru dapat menjelaskan pentingnya disiplin, tetapi jika ia sendiri sering datang terlambat, peserta didik menerima pesan yang berbeda dari apa yang disampaikan. Guru dapat mengajarkan kesantunan, tetapi apabila ia merendahkan murid yang melakukan kesalahan, murid belajar bahwa kekuasaan lebih penting daripada adab. Di sinilah Al-Qur’an memberikan fondasi yang sangat kuat melalui konsep uswah hasanah,keteladanan yang baik.Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” QS. Al-Ahzab [33]: 21

Ayat ini tidak sekadar berbicara tentang keutamaan Rasulullah ﷺ , tetapi memberikan sebuah prinsip pendidikan yang sangat mendasar :manusia belajar nilai melalui figur yang menghadirkan nilai tersebut dalam kehidupan nyata. ImamAl-Tabari (w. 310H), ketika menafsirkan ayat ini,menjelaskan uswah sebagai sesuatu yang diikuti dan dijadikan contoh. Konteks ayat memang berkaitan dengan sikap kaum Muslimin dalam menghadapi beratnya peperangan Ahzab, tetapi prinsip yang dikandungnya tidak berhenti pada konteks peperangan. Rasulullahﷺ menjadi model dalam kesabaran, keteguhan, keberanian, pengorbanan, dan ketergantungan kepada Allah. Imam Ibn Katsir (w. 774H) bahkan menyebut ayat ini sebagai prinsip besar dalam mengikuti Rasulullahﷺ dalam perkataan, perbuatan, dan keadaan beliau. Dalam konteks ayat, keteladanan Nabi tampak terutama dalam kesabaran, keteguhan, perjuangan,dan penantian terhadap pertolonganAllah. Syeikh Al-Sa‘di (w.1376H) juga menegaskan bahwa uswah hasanah berarti Rasulullah ﷺ merupakan teladan yangmembawa manusia menuju jalan yang diridai Allah. Kemampuan mengikuti teladan tersebut berkaitan dengan harapan kepada Allah dan hari akhir serta kehidupan yang dipenuhi zikir.

Dengan demikian,keteladanan dalam pendidikan Islam bukan sekadar persoalan“guru harus memberikan contoh yang baik”. Ia merupakan sebuah paradigma:pendidik harus berusaha menjadi bagian dari pesan pendidikan itu sendiri. Keteladanan sebagai Bahasa Pendidikan yang Paling Konkret Dalam proses pendidikan, peserta didik menerima pesan melalui setidaknya dua saluran:apa yang dikatakan oleh pendidik dan apa yang dilakukan oleh pendidik. Ketika keduanya sejalan, pendidikan memperoleh kekuatan. Ketika keduanya bertentangan, murid menghadapi pesan ganda. Perspektif psikologi pendidikan memberikan penjelasan yang relevan mengenai hal tersebut. AlbertBandura(1986),melalui Social Cognitive Theory, menjelaskan bahwa pembelajaran manusia berlangsung melalui interaksi timbal balik antara faktor personal, perilaku, dan lingkungan. Salah satu unsur penting dalam teori tersebut adalah observational learning, yaitu pembelajaran melalui pengamatan terhadap perilaku model.

Temuan ini tidak dimaksudkan sebagai “pembuktian ilmiah” terhadap Al-Qur’an. AlQur’an memiliki otoritas epistemologisnya sendiri sebagai wahyu. Ilmu psikologi justru dapat digunakan sebagai salah satu perspektif untuk memahami mekanisme manusia yang membuat prinsip keteladanan menjadi masuk akal secara empiris. Karena itu, ketika seorang guru memasuki kelas dengan disiplin, menyapa peserta didik dengan hormat, mendengarkan pertanyaan mereka, mengakui kesalahan ketika keliru, dan mampu mengendalikan emosinya ketika menghadapi masalah, sebenarnya ia sedang melakukan proses pendidikan bahkan sebelum menyampaikan materi pelajaran.

Para Murid tidak hanya mendengar guru.

Mereka mengamati guru. Mereka mengamati bagaimana guru memperlakukan orang yang lemah. Mereka mengamati bagaimana guru berbicara kepada petugas kebersihan. Mereka mengamati apakah guru menghargai pendapat yang berbeda. Mereka mengamati apakah guru meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Mereka mengamati bagaimana guru menghadapi kegagalan. Karena itu, dapat dikatakan bahwa: «Guru tidak hanya mengajarkan karakter; guru menghadirkan karakter di hadapan peserta didik.» Dalam konteks ini, keteladanan bukan sesuatu yang dilakukan sesekali. Keteladanan berlangsung sepanjang waktu karena kehadiran guru itu sendiri menjadi bagian dari lingkungan belajar.

Rasulullah ﷺ : Keteladanan yang Berpadu dengan Rahmah

Keteladanan Rasulullah ﷺtidak dapat dipisahkan dari sifat rahmah dan kelembutan. Allah SWT berfirman:ِ

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu.” QS. Ali ‘Imran [3]: 159»

Ayat ini turun dalam konteks pembinaan komunitas Muslim setelah Perang Uhud, ketika terdapat kesalahan dari sebagian sahabat. Yang menarik, respons Nabi ﷺterhadap kesalahan tersebut bukanlah penghancuran hubungan, melainkan kelembutan, pemberian maaf, permohonan ampun, musyawarah, kemudian ketegasan dalam mengambil keputusan.

Imam IbnKatsir (w. 774H) menjelaskan bahwa kelembutan Rasulullah ﷺ terhadap para sahabat merupakan rahmat Allah kepada mereka. Ia juga menjelaskan bahwa jika Rasulullahﷺ bersikap kasar dalam perkataan dan kerashati, manusia akan menjauh dari beliau.

Al-Qurtubi (w.671H) juga mengaitkan kelembutan Nabiﷺ dengan rahmat Allah dan menjelaskan bahwa sikap tersebut menjadi sebab terpeliharanya keterikatan manusia kepada Rasulullahﷺ . Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat penting bagi pendidikan:otoritas tidak harus dibangun melalui kekerasan. Seorang guru tetap dapat menjadi figur yang berwibawa tanpa merendahkan peserta didik. Seorang kepala sekolah dapat bersikap tegas tanpa mempermalukan guru. Manajemen dapat menetapkan konsekuensi tanpa menjadikan hukuman sebagai sarana pelampiasan emosi.

Kelembutan juga tidak samadengan kelemahan. Rahmah tidak berarti membiarkan kesalahan.Sebaliknya,rahmah justru menuntut pendidik melakukan sesuatu yang benar-benar membantu peserta didik menjadi lebih baik. Karena itu, pendidikan Islam membutuhkan ketegasan yang berlandaskan kasih sayang, bukan kekerasan yang dibungkus dengan alasan disiplin. Kesabaran: Karena Manusia Tidak Tumbuh dalam Satu Hari Jika keteladanan memberikan arah kepada peserta didik,maka kesabaran memberikan ruang bagi proses pertumbuhan mereka.

Allah SWT berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.Kami tidak meminta rezeki kepadamu,Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.”QS.Thaha[20]: 132»

Ayat ini sangat relevan bagi dunia pendidikan karena Allah tidak hanya memerintahkan untuk mengajarkan ibadah, tetapi juga menggunakan ungkapan وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا (waṣṭabir ‘alayhā)—bersungguh-sungguhlah dan teruslah bersabar dalam menjaganya.

Imam Al-Tabari (w. 310 H) menjelaskan perintah tersebut sebagai perintah untuk menegakkan salat dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya. Imam Ibn Katsir (w. 774 H) mengaitkan perintah tersebut dengan upaya menjaga keluarga dari kebinasaan melalui penegakan salat dan ketekunan dalam melaksanakannya. Syeikh Al-Sa‘di (w. 1376 H) memberikan penjelasan yang sangat relevan bagi pendidikan: perintah terhadap keluarga mencakup pengajaran tentang hal-hal yang diperlukan untuk menjalankan salat, kemudian pendidik diperintahkan untuk terus bersabar dalam proses tersebut karena pembinaan membutuhkan perjuangan terhadap diri dan ketekunan yang terus-menerus. Dengan demikian, pendidikan Qur’ani tidak memandang pembinaan sebagai tindakan sekali jadi. Ada proses pengajaran, pengulangan, pembiasaan, koreksi, pendampingan, dan kesabaran. Inilah salah satu persoalan yang sering dihadapi pendidik. Guru memberikan nasihat hari ini, tetapi anak belum berubah. Guru mengulang nasihat minggu depan, tetapi kesalahan kembali terjadi. Guru mulai merasa bahwa semua upayanya sia-sia. Padahal manusia bukan produk yang selesai dalam satu kali proses produksi. Peserta didik adalah manusia yang sedang bertumbuh. Karena itu, guru perlu memahami perbedaan antara kesalahan perilaku dan identitas anak. Seorang anak dapat melakukan kesalahan tanpa harus dicap sebagai “anak nakal”. Perilakunya boleh dinilai salah, tetapi martabat kemanusiaannya tetap harus dijaga. Kalimat “perbuatanmu salah” membuka pintu perbaikan. Sebaliknya, label “kamu memang anak nakal” berpotensi menggeser koreksi perilaku menjadi penilaian terhadap identitas. Pendidikan yang sehat memperbaiki perilaku tanpa menghancurkan harga diri. Kesabaran bukan berarti membiarkan kesalahan, kesalahpahaman terhadap konsep sabar juga perlu diluruskan. Sabar dalam pendidikan bukan berarti guru harus membiarkan semua perilaku. Sabar bukan berarti tidak ada aturan. Sabar bukan berarti tidak ada konsekuensi. Kesabaran pendidikan adalah kemampuan untuk tetap berada dalam proses pembinaan tanpa kehilangan tujuan, kendali diri, dan kasih sayang. Seorang guru yang sabar tetap dapat berkata “tidak”. Ia tetap dapat memberikan konsekuensi. Ia tetap dapat menegakkan aturan. Tetapi ia melakukannya bukan karena ingin melampiaskan kemarahan, melainkan karena ingin mengembalikan peserta didik kepada perilaku yang benar. Dalam kerangka tersebut, disiplin pendidikan setidaknya membutuhkan tiga unsur: ketegasan, keadilan, dan kasih sayang. Ketegasan memberikan batas. Keadilan memastikan batas tersebut diterapkan secara proporsional dan konsisten. Kasih sayang memastikan bahwa seluruh proses diarahkan kepada perbaikan manusia, bukan penghancuran manusia. Maka pertanyaan penting bagi seorang guru setelah memberikan teguran bukan hanya, “Apakah murid sudah takut?” tetapi, “Apakah murid memahami kesalahannya dan mengetahui jalan untuk memperbaikinya?” karena tujuan disiplin bukan menghasilkan murid yang takut kepada guru, tetapi membantu murid belajar mengendalikan dirinya ketika guru tidak berada di dekatnya. Harapan Guru terhadap Murid Ada dimensi lain yang penting dalam pendidikan, yaitu cara guru memandang kemampuan muridnya.

Guru yang sejak awal menganggap seorang anak “tidak mampu” dapat memperlakukannya berbeda: lebih sedikit memberikan kesempatan, lebih jarang memberikan tantangan, atau lebih cepat menyerah ketika anak mengalami kesulitan. Sebaliknya, ekspektasi yang realistis dan dukungan yang tepat dapat menciptakan ruang bagi perkembangan. De Boer, Timmermans, dan van der Werf (2018), melalui telaah sistematis dan meta-analisis terhadap 19 intervensi ekspektasi guru, menemukan bahwa intervensi tertentu dapat meningkatkan ekspektasi guru dan juga menghasilkan peningkatan capaian peserta didik; dalam analisis kuantitatif, efek terhadap capaian akademik berada pada tingkat kecil tetapi signifikan, dengan variasi antarstudi yang cukup besar. Temuan tersebut tidak berarti bahwa seorang guru harus memiliki ekspektasi yang tidak realistis. Pendidikan justru membutuhkan harapan yang berpijak pada pemahaman terhadap kemampuan, kebutuhan, dan kondisi masing-masing peserta didik. Dalam bahasa sederhana: «Jangan cepat memvonis masa depan seorang anak berdasarkan perilakunya hari ini.» Anak yang hari ini sulit berkonsentrasi belum tentu menjadi orang dewasa yang tidak mampu berkarya. Anak yang hari ini sering melakukan kesalahan belum tentu akan selamanya hidup dalam kesalahan. Anak yang hari ini tertinggal dalam satu bidang belum tentu tidak memiliki keunggulan di bidang lain. Guru yang baik melihat manusia bukan hanya berdasarkan kondisi sekarang, tetapi juga berdasarkan kemungkinan pertumbuhan yang dapat dibangun melalui pendidikan.

Kepala Sekolah, Manajemen, dan Guru: Tiga Lingkar Keteladanan

Jika pendidikan ingin membangun budaya keteladanan, maka keteladanan tidak boleh dibebankan hanya kepada guru. Ia harus menjadi budaya seluruh lembaga. Kepala sekolah berada pada posisi pertama. Kepala sekolah bukan hanya administrator, tetapi figur yang sangat menentukan atmosfer moral lembaga. Ketika kepala sekolah disiplin, menghargai guru, terbuka terhadap evaluasi, dan konsisten dengan aturan, ia sedang mengajarkan kepemimpinan tanpa harus memberikan ceramah tentang kepemimpinan. Manajemen kemudian menerjemahkan nilai tersebut ke dalam sistem. Nilai kejujuran harus tercermin dalam administrasi. Nilai keadilan harus tercermin dalam kebijakan. Nilai penghargaan terhadap manusia harus tercermin dalam komunikasi. Nilai kedisiplinan harus tercermin dalam sistem kerja. Kemudian guru menjadi wajah pendidikan yang paling dekat dengan peserta didik. Setiap hari guru menghadirkan pendidikan melalui bahasa, ekspresi, keputusan, ketegasan, kesabaran, dan cara memperlakukan anak. Dengan demikian, budaya sekolah dapat dipahami sebagai pertemuan antara: keteladanan pemimpin, konsistensi sistem, dan keteladanan guru. Apabila kepala sekolah berbicara tentang disiplin tetapi sistemnya tidak disiplin, terjadi kontradiksi. Apabila manajemen berbicara tentang penghargaan tetapi komunikasi internal penuh penghinaan, terjadi kontradiksi. Apabila guru mengajarkan akhlak tetapi mempermalukan peserta didik, terjadi kontradiksi. Pendidikan akan kuat ketika pesan-pesan tersebut bertemu dalam perilaku nyata. Dari Keteladanan Menuju Karakter, Karakter tidak lahir dari satu kali ceramah. Ia tumbuh melalui proses yang panjang. Nilai diperkenalkan, kemudian diteladankan, dilatih, diulang, dikoreksi, dibiasakan, dan akhirnya diinternalisasi.

Karena itu, proses pendidikan dapat dipahami melalui rangkaian:

keteladanan → hubungan → pembinaan → pembiasaan → karakter.

Keteladanan menunjukkan arah. Hubungan menciptakan ruang penerimaan. Pembinaan memberikan koreksi dan bimbingan. Pembiasaan mengubah nilai menjadi perilaku yang berulang. Dan karakter terbentuk ketika perilaku baik semakin terintegrasi ke dalam kepribadian. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukan pekerjaan yang menghasilkan hasil instan. Guru menanam. Guru menyiram. Guru menjaga. Guru memperbaiki. Guru menunggu. Dan guru kembali menanam. Pada titik tertentu, seorang guru mungkin tidak melihat langsung seluruh hasil dari apa yang telah ia lakukan. Bisa jadi murid baru memahami nilai sebuah nasihat bertahun-tahun setelah meninggalkan sekolah. Namun justru di situlah kemuliaan profesi pendidikan. Guru tidak hanya bekerja untuk hasil yang dapat dilihat hari ini. Ia bekerja untuk manusia yang mungkin baru menunjukkan buah pendidikan itu jauh di masa depan.

Penutup: Mendidik dengan Ilmu, Keteladanan, dan Kesabaran

Al-Qur’an memberikan kepada pendidikan Islam tiga prinsip yang saling melengkapi.

Pertama, keteladanan, sebagaimana tergambar dalam QS. al-Ahzab [33]: 21. Rasulullah ﷺ tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi menghadirkan ajaran tersebut dalam kehidupan. Para mufasir seperti al-Tabari, Ibn Kathir, al-Qurtubi, dan al-Sa‘di menunjukkan bahwa uswah berkaitan dengan mengikuti dan meneladani Rasulullah ﷺ dalam kehidupan nyata.

]Kedua, kesabaran dalam proses pembinaan, sebagaimana QS. Thaha [20]: 132. Pendidikan membutuhkan ketekunan, pengulangan, pembiasaan, dan kesabaran yang aktif. Para mufasir menjelaskan bahwa perintah waṣṭabir menunjukkan kesungguhan dalam mempertahankan proses ibadah dan pembinaan.

Ketiga, rahmah dan kelembutan yang tidak kehilangan ketegasan, sebagaimana QS. Ali ‘ Imran [3]: 159. Rasulullah ﷺdiperintahkan untuk memaafkan, memohonkan ampun, bermusyawarah, kemudian mengambil keputusan dan bertawakal kepada Allah. Dengan demikian, kelembutan dalam Islam bukan lawan dari kepemimpinan; kelembutan justru merupakan bagian dari kepemimpinan yang membangun manusia.

Ketiga prinsip tersebut kemudian memperoleh titik temu dengan temuan ilmu pendidikan. Penelitian tentang pembelajaran observasional menjelaskan pentingnya model dalam proses belajar; penelitian tentang dukungan dan hubungan guru-murid menunjukkan keterkaitan dengan keterlibatan dan capaian belajar; sementara penelitian mengenai ekspektasi guru menunjukkan bahwa perubahan perilaku dan ekspektasi guru dapat berkaitan dengan perubahan capaian murid. Semua temuan tersebut perlu ditempatkan secara proporsional. Prestasi murid tidak ditentukan oleh satu faktor. Keteladanan guru, hubungan pedagogis, ekspektasi, lingkungan keluarga, karakteristik murid, kualitas kurikulum, sistem sekolah, kondisi sosial, dan berbagai faktor lainnya saling berinteraksi. Karena itu, pendidikan Islam tidak boleh direduksi menjadi sekadar metode.

Pendidikan adalah relasi manusia yang diarahkan oleh nilai. Kepala sekolah harus menjadi teladan bagi manajemen dan guru. Manajemen harus menjadi teladan dalam sistem. Guru harus menjadi teladan di hadapan peserta didik. Dan seluruh ekosistem sekolah harus memberikan pesan yang relatif konsisten tentang manusia seperti apa yang hendak dibentuk.

Pada akhirnya, seorang guru mungkin tidak mampu mengubah seorang murid dalam satu semester. Bahkan mungkin tidak mampu melihat seluruh hasil perjuangannya selama ia masih menjadi guru. Tetapi seorang guru dapat memilih untuk tidak berhenti menjadi teladan. Ia dapat memilih untuk tetap sabar. Ia dapat memilih untuk menegur tanpa menghina. Ia dapat memilih untuk tegas tanpa kasar. Ia dapat memilih untuk melihat kesalahan tanpa menghapus harapan. Ia dapat memilih untuk mendidik manusia, bukan sekadar mengendalikan perilaku. Sebab seorang anak bukan sekadar nilai di dalam rapor. Ia adalah manusia yang sedang tumbuh. Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika anak itu telah dewasa, ia tidak lagi mengingat seluruh materi pelajaran yang pernah disampaikan gurunya. Tetapi ia mungkin masih mengingat seorang guru yang pernah berkata kepadanya: “Kamu memang melakukan kesalahan, tetapi saya tetap percaya bahwa kamu bisa menjadi lebih baik.” Kalimat sederhana seperti itu dapat menjadi awal dari sebuah perubahan besar. Maka pendidikan yang berangkat dari Al-Qur’an seharusnya memiliki keberanian untuk memadukan ilmu dengan keteladanan, ketegasan dengan kasih sayang, dan kesabaran dengan harapan. wallahu ‘alam bi shawab.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim. Al-Qurtubi, M. ibn A. (2006). Al-Jāmi‘ li-aḥkām al-Qur’ān. Beirut: Mu’assasah al-Risālah. Al-Sa‘di, A. ibn N. (2000). Taysīr al-Karīm al-Raḥmān fī tafsīr kalām al-Mannān. Riyadh: Mu’assasah al-Risālah. Al-Tabari, M. ibn J. (2001). Jāmi‘ al-bayān ‘an ta’wīl āy al-Qur’ān. Cairo: Dār Hajr. Bandura, A. (1986). Social foundations of thought and action: A social cognitive theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall. De Boer, H., Timmermans, A. C., & van der Werf, M. P. C. (2018). The effects of teacher expectation interventions on teachers’ expectations and student achievement: Narrative review and meta-analysis. Educational Research and Evaluation, 24(3–5), 180–200. https://doi.org/10.1080/13803611.2018.1550834 Ibn Katsir, I. ibn U. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Riyadh: Dār Ṭayyibah.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Menghadirkan Generasi Hafizh Saintis dan Ulama Pejuang.

PONPES MIMBAR HUFFAZH

Jl. Cikampek-Cilamaya Dusun Krajan 2 Kp. Susukan Berkah
Ds. Mekarasih, Kec. Banyusari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat 41374