
Bismillahirrahmanirrahim
Ketika Umat Pintar Tapi Tidak Bisa Berpikir [Refleksi tentang Taklid, Fanatisme, dan Krisis Cara Berpikir di Era Ulama dan Algoritma]
Dr. H.Uus Mauludin. MA Ketua IKADI Kab. Karawang
Ada satu hal aneh yang terjadi di depan mata kita. Sekolah makin banyak, gelar makin gampang didapat, ceramah dan kajian bertebaran di YouTube, TikTok, dan grup WhatsApp setiap hari. Tapi umat justru makin gampang terbelah, gampang terprovokasi, dan gampang menelan mentah-mentah apa saja yang keluar dari mulut tokoh idolanya, tanpa pernah bertanya: benarkah ini? Kita sering menyalahkan “kurangnya ilmu” sebagai biang kemunduran umat. Tapi orang yang sekadar kurang ilmu biasanya masih mau belajar dan bertanya. Yang justru berbahaya adalah orang yang merasa sudah tahu segalanya karena semua sudah dijawab oleh ustadznya, tokohnya, kelompoknya tanpa pernah ia periksa sendiri. Persoalan kita bukan hanya “kurang ilmu”. Persoalan kita adalah cara berpikir yang sudah dimatikan secara tidak sadar. Dalam ilmu ushul fiqih ada istilah taklid mengikuti pendapat orang lain karena kita memang tidak punya kapasitas untuk menelitinya sendiri. Ini wajar. Orang awam yang bertanya ke dokter soal obat, atau bertanya ke ustadz soal hukum puasa, itu sah-sah saja. Masalahnya muncul ketika taklid berubah menjadi taklid buta: kita menyerahkan otak sepenuhnya ke satu orang, satu kelompok, satu channel sampaisampai kita tak sanggup lagi bertanya “kenapa begitu?” Ulama besar Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, delapan ratus tahun silam, sudah menulis kritik tajam soal ini dalam kitabnya I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-‘Alamin: mengikuti pendapat seseorang secara membabi buta, tanpa pernah memeriksa dalilnya, bukanlah kewajiban agama (Ibn Qayyim al-Jawziyyah, terj. Mustafa, 2013). Menariknya, kritik ini tidak pernah diterima bulat-bulat bahkan oleh sesama ulama klasik. Ulama Hanafi India, Habib Ahmad al-Kiranawi, menulis sanggahan berjudul al-Din al-Qayyim yang membela taklid sebagai penopang yang diperlukan agar keilmuan Islam tetap berfungsi di tengah masyarakat awam (al-Kiranawi, t.t.). Perdebatan berabad-abad ini justru membuktikan satu hal penting: taklid bukan barang yang bisa diterima atau ditolak mentah-mentah. Yang perlu dilawan bukan taklid itu sendiri, melainkan taklid yang sudah buta.
Kritik ini pun bukan monopoli ulama Timur Tengah. Buya Hamka, ulama besar kita sendiri, menulis kalimat tajam dalam Tafsir Al-Azhar: taklid adalah musuh kemerdekaan berpikir, dan kebekuan berpikir melahirkan kebekuan agama (Hamka, dikutip dalam kajian Digilib UIN Sunan Kalijaga, t.t.). Sikap ini bukan kebetulan, Buya Hamka mewarisi corak pemikiran gerakan pembaruan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang rasionalis, mendorong ijtihad, dan menolak fanatisme mazhab (MUI, t.t.). Seorang ulama besar Indonesia, di tengah masyarakat yang haus bimbingan agama, justru mengingatkan: belajar dari ulama semestinya membuat kita makin bisa berpikir, bukan makin berhenti berpikir.
Taklid buta pada satu tokoh, kalau dibiarkan, biasanya berubah jadi sesuatu yang lebih berbahaya: fanatik golongan. Cirinya gampang dikenali, kita menilai benarsalahnya sebuah pendapat bukan dari kuat-lemahnya argumen, tapi dari siapa yang mengucapkannya. Kalau “orang kita” yang bicara, otomatis benar. Kalau “orang mereka” yang bicara, otomatis dicurigai. Kritik dari dalam kelompok sendiri dianggap pengkhianatan. Pola pikir ini sebenarnya persis dengan yang disebut ashabiyyah jahiliyyah (fanatisme kesukuan zaman jahiliyah) yang justru hendak dihapus oleh datangnya Islam. Sayangnya, ashabiyyah itu belum benar-benar hilang. Ia cuma ganti baju, memakai jubah, dan mengatasnamakan agama.
Jika kita membaca Al-Qur’an dengan teliti, kita akan menemukan bahwa kitab suci ini justru penuh perintah untuk berpikir, bukan sekadar patuh. Dalam surah AlHashr ayat 18, Allah berfirman agar setiap jiwa “memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS Al-Hashr [59]: 18). Sebelum menilai orang lain benar atau salah, Al-Qur’an dulu menyuruh kita mengoreksi diri sendiri — berpikir kritis dimulai dari dalam, bukan dari menuding orang lain. Lalu dalam surah AzZumar ayat 18, Allah memuji orang-orang yang “mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang paling baik di antaranya” dan menyebut mereka ulul albab, orangorang berakal sehat (QS Az-Zumar [39]: 18). Perhatikan susunan kalimatnya: mendengar, lalu menimbang, baru mengikuti. Menurut riwayat asbabun nuzul yang dicatat Imam al-Wahidi, ayat ini berkaitan dengan sahabat seperti Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghifari — orang-orang yang justru dipuji karena berani menimbang, bahkan saat semua orang di sekitarnya menyembah berhala (al-Wahidi, dikutip dalam Tafsiralquran.id, t.t.). Kemudian dalam surah Al-Ghashiyah ayat 17-20, Allah menantang manusia dengan pertanyaan sederhana: apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan, langit bagaimana ia ditinggikan, gunung bagaimana ia ditegakkan, dan bumi bagaimana ia dihamparkan (QS AlGhashiyah [88]: 17-20). Sebuah kajian perbandingan tafsir dari UIN Walisongo Semarang menunjukkan bahwa Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini secara ringkas sebagai bukti kekuasaan Allah lewat hewan yang paling akrab dengan orang Arab kala itu, sementara M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menariknya lebih jauh: meski unta kini tergeser moda transportasi modern, fungsinya sebagai bahan perenungan tetap relevan lintas zaman (Syaninditha, 2022). Al-Qur’an mengajak manusia berpikir dari hal yang paling dekat dan sederhana, baru naik ke hal yang lebih besar dan rumit, metode berpikir yang sangat sistematis. Tiga ayat ini kalau digabungkan membentuk satu pesan besar: Islam tidak pernah mendidik umatnya untuk jadi penurut tanpa nalar. Islam mendidik umatnya untuk merenung (tadabbur), menimbang (ta’aqqul), dan mengamati (tafakkur).
Perlu digarisbawahi: menghormati ulama itu wajib, tapi mensucikan ulama sampai tidak boleh dikritik itu keliru. Al-Qur’an memang menyuruh kita bertanya kepada ahli ilmu kalau kita tidak tahu. Tapi tidak ada satu pun ulama besar termasuk para imam mazhab sendiri, yang menyuruh umatnya mengikuti mereka secara buta. Justru merekalah yang paling sering berkata: kalau pendapatku bertentangan dengan dalil yang lebih kuat, tinggalkan pendapatku. Jadi kalau ada orang yang marah besar hanya karena pendapat ustadznya dikritik dengan dalil, sesungguhnya ia sedang membela sesuatu yang bahkan tidak dibela oleh ustadznya sendiri.
Ada satu bentuk taklid buta yang belum ada di zaman Imam Ibnu Qayyim maupun Buya Hamka, tapi sudah nyata di depan kita hari ini: taklid pada kecerdasan buatan (Ai). Semakin banyak orang bertanya soal hukum agama, kesehatan, bahkan keputusan hidup penting, langsung kepada chatbot Ai, lalu menerima jawabannya begitu saja, tanpa menimbang, tanpa mengecek ulang, seolah jawaban itu datang dari sumber yang mustahil keliru. Ini bukan kekhawatiran berlebihan. Riset gabungan Microsoft Research dan Carnegie Mellon University yang disurvei terhadap 319 pekerja, dipresentasikan di konferensi CHI 2025, menemukan bahwa kepercayaan yang tinggi terhadap jawaban AI justru mengurangi upaya berpikir kritis penggunanya, orang merasa jawaban itu sudah pasti benar, sehingga malas menganalisis ulang (Lee et al., 2025). Gejala ini dikenal dalam psikologi kognitif sebagai automation bias: kecenderungan manusia mempercayai keluaran sistem otomatis secara berlebihan, sampai mengabaikan penilaian dan akal sehatnya sendiri (Mosier & Skitka, 1998, dikutip dalam Longtermwiki, 2025). Ironisnya, pola ini sama persis dengan taklid buta yang dikritik Imam Ibnu Qayyim delapan abad lalu, hanya berganti wajah. Dulu orang menyerahkan akalnya kepada tokoh kharismatik tanpa memeriksa dalil. Sekarang, sebagian orang menyerahkan akalnya kepada mesin yang berbicara dengan nada meyakinkan, tanpa memeriksa apakah jawabannya benar atau sekadar terdengar meyakinkan.
Ai bisa jadi alat bantu yang luar biasa untuk mengumpulkan referensi dan merapikan gagasan. Tapi ia tetap harus diperlakukan sebagaimana pendapat manusia: didengar, ditimbang, dicek ulang kebenarannya, baru diikuti bila memang teruji, persis semangat “mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik” dalam surah Az-Zumar ayat 18 tadi. Ta’aqqul dan tadabbur al-waqi’ yang dulu ditujukan untuk menimbang fatwa ustadz, kini juga harus diarahkan untuk menimbang jawaban algoritma. Nalar kritis Qur’ani tidak berhenti di hadapan otoritas manusia; ia juga tidak boleh berhenti di hadapan otoritas mesin.
Kebangkitan umat tidak akan datang hanya dari makin banyaknya gelar sarjana atau makin ramainya kajian, baik yang disampaikan lewat mimbar, maupun yang dijawab lewat layar. Kita bisa saja punya jutaan orang berpendidikan tinggi dan berteknologi canggih, tapi tetap gampang dihasut, gampang terpecah, dan gampang dijadikan alat oleh siapa saja atau apa saja yang pandai bermain kata; manusia maupun mesin. Yang benar-benar dibutuhkan adalah manusia yang berani menimbang sebelum percaya, berani bertanya sebelum mengikuti, dan berani merenung sebelum menghakimi; kepada ustadznya, kepada kelompoknya, dan kini juga kepada layar gawainya. Itulah yang oleh Al-Qur’an disebut ulul albab: bukan orang yang paling banyak hafal atau paling cepat mendapat jawaban, tapi orang yang paling jernih akalnya. Sebab pada akhirnya, umat yang besar tidak lahir dari banyaknya pihak yang ditaati tanpa tanya. Umat yang besar lahir dari banyaknya manusia yang berpikir sehingga kuat dalam iman, ilmu dan amal.
wallahu ‘alam bi shawab.
Sumber Rujukan
al-Kiranawi, H. A. (t.t.). Al-Din al-Qayyim: On Taqlid and Ijtihad — A Refutation of Ibn Qayyim al-Jawziyyah’s Arguments against Taqlid. Diakses dari archive.org. Digilib UIN Sunan Kalijaga. (t.t.). Taqlid dan Kemerdekaan Berpikir dalam Tafsir Al-Azhar Karya Hamka (skripsi). Diakses dari digilib.uin-suka.ac.id. Ibn Qayyim al-Jawziyyah. (2013). On Taqlid: Ibn al-Qayyim’s Critique of Authority in Islamic Law (A. Mustafa, Terj. & Ed.). Oxford: Oxford University Press. Lee, H.-P., Sarkar, A., Tankelevitch, L., Drosos, I., Rintel, S., Banks, R., & Wilson, N. (2025). The Impact of Generative AI on Critical Thinking: Self-Reported Reductions in Cognitive Effort and Confidence Effects from a Survey of Knowledge Workers. Proceedings of the 2025 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems. Longtermwiki. (2025). Automation Bias. Diakses dari longtermwiki.com, mengutip Mosier, K. L., & Skitka, L. J. (1998). Majelis Ulama Indonesia. (t.t.). Corak Penafsiran Buya Hamka dalam Mahakaryanya Tafsir Al-Azhar. Diakses dari mirror.mui.or.id. Syaninditha, A. S. (2022). Al-Ghashiyah Verse 17: A Comparative Study of Tafsir Ibn Kathir and al-Misbah (skripsi S1). Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Tafsiralquran.id. (t.t.). Ajaran Al-Qur’an tentang Etika Komunikasi: Tafsir Az-Zumar 17–18, mengutip Asbab al-Nuzul karya al-Wahidi.
Tinggalkan Komentar