
Di era modern saat ini, istilah hustle culture sedang sangat ramai dibicarakan. Fenomena ini menggambarkan sebuah budaya yang mengagungkan kesibukan tanpa batas, di mana seseorang merasa harus terus bekerja keras, produktif setiap saat, dan menjadikan tingkat kesibukan sebagai tolok ukur utama harga diri serta kesuksesan.
Namun, di balik narasi hustle culture yang tampak di media sosial, ada dampak tersembunyi yang mengintai nya yaitu burnout. Ketika fisik, emosi, dan pikiran dipaksa terus berlari tanpa jeda, seseorang akan mencapai titik lelah yang kronis (Demerouti et al., 2021). Ia bukan hanya kehabisan energi, tetapi juga mulai kehilangan rasa antusias, menjadi pasif, kehilangan inisiatif, hingga merasa bahwa apa yang diperjuangkan seolah tidak ada artinya lagi (Rosilawati, 2025).
Jika dicermati lebih dalam, salah satu dampak paling nyata dari burnout dan tekanan kerja modern adalah hilangnya inisiatif pada diri seseorang. Banyak dari kita kemudian terjebak menjadi orang yang pasif yang datang ke kantor, mengerjakan apa adanya, menunggu instruksi, dan tidak punya dorongan proaktif kecuali harus disuruh terlebih dahulu.
Kondisi “kehilangan inisiatif” ini biasanya lahir dari dua hal: hilangnya makna intrinsik dari pekerjaan itu sendiri dan orientasi kerja yang sepenuhnya disetir oleh ambisi eksternal semata (seperti mengejar gaji atau pujian) (Riyono, 2020). Ketika pencapaian duniawi tersebut tidak lagi memberi kepuasan batin, individu mulai merasa lelah secara eksistensial. Pekerjaan yang tadinya bisa menjadi ladang aktualisasi diri berubah menjadi rutinitas hampa yang menguras energi.
Untuk keluar dari jebakan kelelahan ini dan menumbuhkan kembali inisiatif yang tuntas, kita perlu mengembalikan orientasi bekerja pada tempatnya yang benar. Dalam tradisi Islam, pekerjaan bukan sekadar sarana mencari materi untuk bertahan hidup, melainkan bagian dari ibadah dan bentuk tanggung jawab yang bernilai pahala di sisi Allah.
Ketika niat bekerja dilandasi oleh kesadaran ilahiah bahwa apa yang kita kerjakan adalah bentuk pengabdian dan ikhtiar terbaik, cara pandang kita terhadap tugas kerja akan bergeser. Kita tidak lagi bekerja karena menunggu perintah atasan, melainkan karena ada kesadaran moral (itqan) untuk menuntaskan amanah dengan kualitas terbaik. Niat yang lurus ini bertindak sebagai perisai mental yang membuat kita lebih ikhlas, tangguh, dan tidak mudah mengeluh saat menghadapi tekanan (Mehmood et al., 2026).
Agar kita bisa hadir secara utuh, proaktif, dan tidak mudah terjebak dalam burnout, beberapa langkah sederhana ini bisa mulai diterapkan:
Kita dapat merujuk langsung pada firman Allah swt dalam surat Q.S. Al-Insyirah ayat 7–8,
فَإِذَافرَغْتَفَانصَبْوَإِلَىٰرَبِّكَفَارْغَب
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (Q.S. Al-Insyirah [94]: 7–8).
Ayat ini mengajarkan kita tentang ritme hidup yang sehat: ada saatnya fokus menyelesaikan tugas dengan penuh dedikasi (fanshab), dan ada saatnya kita melepaskan beban tersebut untuk beristirahat serta menyandarkan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Dengan memadukan etos kerja yang profesional dan ketenangan spiritual, kita tidak hanya menjaga kewarasan mental, tetapi juga merawat jiwa agar tetap produktif dan bermakna secara berkelanjutan (Adz-Dzakiey, 2018).
Ketika kita mampu menata kembali niat, merawat batas energi, dan memandang pekerjaan sebagai bentuk ibadah yang utuh, rutinitas di kantor tidak lagi terasa sebagai beban yang menindas. Sebaliknya, ia menjadi ruang yang produktif, menenangkan, dan penuh keberkahan untuk terus bertumbuh. Semoga Allah selalu menguatkan langkah kita dalam perjuangan, dan semoga apa yang telah kita lakukan dapat menjadi kebaikan serta tabungan pahala di akhirat kelak.
Tinggalkan Komentar